Rabu, 15 Mei 2013

NEUROLINGUISTIK


A.     Pengertian
Otak atau Serebrum adalah satu komponen dalam sistem saraf manusia yang terdapat di ruang tengkorak. Komponen lainnya adalah sumsum tulang balakang (Medula spinalis) yang berada di ruang tulang balakang dan saraf tepi yang sebagian besar berada di luar ruang tersebut.

B.     Evolusi Otak dan Perkembangan Otak Manusia.
Evolusi otak manusia telah berlangsung sekitar 3 juta tahun, dan membesar dari ukuran semula,  400 mg menjadi 1400 mg. (Holloway 1996;74;Rumbaugh; 1991) . dari 1,7 Juta tahun yang lalu otak manusia berkembang dari 800 mg menjadi 1500 mg.
Perkembangan atau pertumbuhan otak manusia menurut Volpe (1987) terdiri atas enam tahap, yaitu :
(1)   Pembentukan Tabung Neural
(2)   Profilerasi selular untuk membentuk calon sel neuron dan glia.
(3)   Perpindahan selular dari germinal subependemal ke korteks,
(4)   Deferensasi selular menjadi neuron spesifik
(5)   Perkembangan akson dan dendrite yang menyebabkan bertambahnya sinaps (Perkembangan dendrite tergantung fungsi daerah tersebut)
(6)   Eliminasi selektif neuron, Sinaps, dsb untuk spesifikasi.
Perkembangan tahap 1 s/d 4 pada masa kandungan dan tidak dipengaruhi oleh dunia luar, sedangkan tahap 5 dan 6 berlangsung terus setelah lahir, dan dipengaruhi oleh dunia luar atau keadaan seitarnyna (Goodman, 1987). Ada dua masa dalam perkembangan ini yaitu antara bulan kedua dan bulan keempat masa kandungan (Yakni terjadinya pembelahan sel). Dan antara bulan kelima kandungan sampai usia 18 bulan pasca kelahiran (Yakni terjadinya pertambahan oligodendroglia). Oleh karena itu, dua tahun pertama kehidupan disebut juga sebagai masa kritis perkembangan yang paling maksimal.

C.     Otak Manusia vs Otak Binatang.
Volume otak menusia lebih besar dibandingkan otak binatang. Selain itu otak manusia juga lebih berat dibandingkan binatang. Selain itu fungsi dan strukturnya pun berbeda. Sebagai pembeda adalah dalam penggunaan bahasa.

1.      Otak Manusia
Berat Otak Maunusia 1-1,5kg (Steinberg dkk 2001 : 311 ; Dingwall 1998 ; 60) dengan rata-rata 1330 gram (Holloway 1996:77 dan menyedot 15% dari seluruh peredaran darah dari jantung dan 20% dari sumber daya metabolic manusia. Sistem syaraf Manusia terdiri dari 2 bagian utama yaitu 1. Tulang Punggung (Spiral Cord), 2. Otak : Batang Otak, Korteks Selebral. Tulang punggung dan korteks selebral merupakan sistem syaraf sentral bagi manusia.

2.      Otak Hewan
Evolusi otak manusia dan binatang tampak berbeda antara lain korteks selebral tidak tampak pada binatang. Manusia menggunakan sebagian besar otaknya untuk kebutuhan fisik. Itulah sedikit alasan yang menyebabkan manusia dapat berbahasa dan binatang tidak. Mengerti bahasa dan dapat berbahasa adalah dua hal yang berbeda. Seperti hewan yang dilatih untuk mengerti perintah dan dapat berbahasa itu dikarenakan oleh respon yang dikondisikan.


D.     Kaitan Otak dan Bahasa
Permukaan otak disebut sebagai Korteks Serebral, bantuknya tampak berkelok-kelok membentuk lekukan (Sulkus) dan benjolan (Girus). Korteks ini mempunyai peranan penting baik pada fungsi elementer seperti pergerakan, perasaan, dan panca indera, maupun pada fungsi yang lebih tinggi lagi dan kompleks yaitu fungsi mental dan fungsi luhur atau kortikal. Fungsi ini meliputi pikiran, ingatan, emosi, persepsi, organisasi gerak dan aksi, dan juga fungsi bahasa.
Otak memegang peranan penting dalam berbahasa (Geschwind : 1981) Apabila Input yang masuk adalah dalam bentuk lisan, maka bunyi-bunyi itu ditanggapi di Lobe Temporal (Korteks Primer Pendengaran). Input tadi diolah secara rinci sekali. Misalnya, apakah bunyi sebelum bunyi /o/ yang didengar itu memiliki Vot +60 md, +20 md, atau di antara kedua angka itu. Setelah diterima, dicerna dan diolah bunyi tadi dikirim ke Wernicke untuk diinterpretasikan menjadi suku kata, kata, frasa, klausa dan akhirnya kalimat. Setelah dipahami isinya maka ada dua jalur kemungkinan. Bila masukan tadi hanya sekedar informai yang tidak perlu ditanggapi, maka masukan tadi cukup disimpan saja dalam memori. Jika masukan tadi ditanggapi secara verbal maka interpretasi itu dikirim ke Broca melalui Arkuat.
Proses penanggapan dimulai di Broca. Setelah diputuskan tanggapan verbal itu bunyinya seperti apa maka daerah Broca memerintahkan motor korteks untuk melaksanakannya.  Proses pelaksanaan di korteks motor juga tidak sederhana. Untuk satu ujaran ada minimal 100 otot dan 140.000 rentetan neoromuskuler yang terlibat. Motor korteks juga harus mempertimbangkan tidak hanya terlibat. Motor korteks juga hartus mempertimbangkan tidak hanya urutan kata dan urutan bunyi, tetapi juga urutan dari fitur-fitur pada tiap bunyi yang harus diujarkan. Ambillah perkataan dia pada kalimat :
Dia belum pulang.
Karena bunyi /d/ mempunyai fitur [+vois], disamping fitur-fitur lain seperti [+konsontal], [-bilabial], [+alveolar], [-nasal], maka korteks motor harus memerintahkan pita suara untuk bergetar 30 md lebih awal daripada perintah-perintah yang lain. Hal ini disebabkan karena pita suara letaknya paling jauh dibandingkan dengan alat-alat penyuara yang lain. Sebalkiknya, untuk bunyi /p/ pada kata pulang pada kalimat di atas, pita suara harus diperintahkan untuk bergetar paling awal 25 md setelah bunyi /p/ itu diucapkan. Ini untuk menjamin bahwa bunyi bilabial yang keluar itu benar-benar/p/ dan bukan /b/.
Perpindahan dari bunyi /d/ ke /i/ dan kemudian ke /a/ untuk kata dia juga memerlukan koordinasi yang sangat akurat. Ujung lidah yang menempel pada daerah alveolar di mulut untuk bunyi /d/ yang kemudian harus dengan tepat berubah bentuk menjadi lengkung dan tinggi depan untuk /i/. misalnya harus dikoordinasi dengan rapi sekali sehingga hasilnya benar-benar mencerminkan bunyi yang natif. Tanpa ketepatan ini maka pembicara akan kedengaran seperti orang asing.
Bila input yang masik bukan dalam bentuk lisan, tetapi dalam bentuk tulisan, maka jalur pemrosesannya agak berbeda. Masukkan tidak ditanggapi oleh korteks primer pendengaran, tapi oleh korteks visual di Lobe Osipital. Masukan ini tidak langsung dikirim ke daerah Wernicke, tetapi harus melewati arus regular yang mengkoordinasikan daerah pemahaman dengan daerah Osipital. Setelah tahap ini, prosesnya sama, yakni input tadi dipahami oleh daerah Wernicke, kemudian dikirim daerah Broca bila perlu tanggapan verbal. Bila tanggapannya juga visual, maka informasi itu dikirm ke daerah parietal untuk proses visualisasinya.

E.      Peran Hemisfir Kiri dan Hemisfir kanan.
Hemsifir kiri adalah yang bertanggung jawab tentang ikhwal kebahasaan. Dibuktikan dalam penelitian  wada (1949) yang memasukkan cairan ke kedua hemsifir. Bila hemisfir  kiri ditidurkan maka terjadi gangguan wicara.
Dichotic Listening test oleh Kimura (1961) mencoba memberikan input melalui telinga kiri dan kanan. Dan terbukti input melalui telinga kanan lebih akurat (Hemisfir kiri) dari pada telinga kiri. Tapi hemisfir kanan pun ikut berperan.
Pada saat manusia baru dilahirkan kedua hemisfir itu belum ada lateralisasi (Pandangan tugas). Terbukti anak umur <13 tahun yang hemisfir kirinya cedera dapat memperolah bahasa seperti anak normal. Dan orang-orang yang hemisfir kanannya terganggu kemampuan mereka dalam menyusun cerita menjadi kacau. Dan dapat disimpulkan bahwa semua faktor itu dipengaruhi oleh faktor medis dan faktor lingkungan.

F.      Fungsi Kebahasaan Otak.
Hemisfir kiri memeng dominan untuk fungsi bicara bahasa, tapi tanpa adanya aktifitas hemisfir kanan, maka pembicara seseorang akan menjadi monoton, tak ada prosadi, tak ada lagu kalimat, tanpa menampakkan adanya emosi dan tanpa disertai isyarat-isyarat bahasa.
Hasil penelitian tantang kerusakan otak oleh Broca dan Wernicke serta penelitian Penfield dan Robert mengarah pada kesimpulan bahwa hemisfir kiri dilibatkan dalam hubungannnya dengan fungsi bahasa. Krashen (1977) mengemukakan lima alasan yang mendasari kesimpulan tersebut, seperti :
(1)   Hilangnya kemampuan berbahasa akibat kerusakan otak lebih sering disebabkan oleh kerusakan jaringan saraf hemisfir kiri daripada hemisfir kanan.
(2)   Ketika hemisfir kiri dianestesia kemampuan berbahasa itu tetap ada.
(3)   Sewaktu bersaing dalam menerima masukan bahsa secara bersamaan dalam tes dikotik ternyata telinga kanan lebih unggul dalam ketepatan dan kecepatan pemahaman daripada telinga kiri. Keunggulan telinga kanan itu karena hubungan telinga kiri dengan hemisfir kanan.
(4)   Ketika materi bahasa diberikan melalui penglihatan mata kanan dan mata kiri, maka ternyata penglihatan kanan lebih cepoat dan lebih tepat dalam menangkap materi bahasa itu daripada penglihatan kiri. Keunggulan penglihatan kanan itu karena hubungan antara penglihatan kanan dan hemisfir kiri lebih baik daripada hubungan penglihatan kiri dan hemisfir kanan.
(5)   Pada waktu melakukan kegiatan berbahasa baik secara terbuka maupun tertutup, hemisfir kiri menunjukkan kegiatan elektris lebih hebat daripada hemisfir kanan. Hal inidiketahui melalui analisis gelombang otak. Hemisfir yang lebih aktif lebih sedikit dalamn menghasilkan gelombang alpha.

G.     Gangguan Wicara
Gangguan wicara dikelompokkan menjadi : 1) Gangguan wicara yang berimplikasi pada gangguan organik. ; 2) Psikogenik. Gangguan Psikogenik merupakan ungkapan dan gangguan dibidang mental.
Stroke adalah penyakit yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah / kurangnya oksigen pada otak. Selain itu juga ditentukan oleh letak kerusakan pada hemisfir yang bersangkutan. Jika hemsisfir kiri terganggu maka terjadi gangguan wicara (Afasia). Afasia terdiri dari beberapa macam, antara lain :
a.       Afasia Broca (Lesion), terjadi di sekitar Broca
b.      Afasia Wernicke, terjadi di sekitar Wernicke
c.       Afasia Anomik, terjadi di bagian depan dari Lobe Parietal (Antara Lobe Parietal – Lobe temporal)
d.      Afasia Global, terjadi tidak di satu atau dua tempat saja, tetapi di beberapa daerah lain (Komplikasi)
e.       Afasia Konduksi, terjadi pada fiber-fiberyang ada pada fsaikulus arkuat yanbg menghubung Lobe Frontal dengan Lobe Temporal.
f.        Disartria adalah Lafal yang tidak jelas tetapi ujarannya utuh.
g.       Agnosia / Dimensia  adalah gangguan pada pembuatan ide.
h.       Aleksia adlah hilangnyav kemampuan untuk membaca.
i.         Agresia adalah hilangnya kemampuan untuk menulis dengan huruf normal.
Perbedaan antara orang yang normal dengan yang  abnormal seperti idiot, tuna rungu (Yang mempunyai gangguan wicara) bukan pada struktur otaknya yang tidak lengkap melainkan pada salahsatu fungsi bagian otaknya yang tidak bekerja dengan baik.

H.     Hipotese Umur Kritis
Sebelum mencapai umur 12 tahunan, anak mempunyai kemampuan untuk memperoleh bahasa mana pun yang disajikan padanya secara natif, hal ini tampak terutama pada aksennya. Gejala ini dinyatakan dalam hipotese umur kritis (Lenberg 1967). Pada esensinya Hipotese ini mengatakan bahwa antara umur 2 sampai 12 tahunan seorang anak dapat memperoleh bahasa mana pun dengan kemampuan seorang penutur asli.
Hipotese ini banyak dibincangkan orang dan dianut banyak orang. Namun demikian , ada pula yang menyanggahnya. Krashen (1972), misalnya beranggapan  bahwa lateralisasi itu sudah terjadi jauh lebih awal, yakni sekitar umur 4-5 tahun.

I.        Kekidalan dan Kekinanan.
Manusia ada yang kidal ada juga yang kinan. Namun ada juga yang mampu menggunakan keduanya dengan imbang, orang yang semacam ini dinamakan ambidekstrus. Belum ada jawaban dari pertanyaan apakah ada korelasi antara kekidalan dan kekinanan dalam pemakaian bahasa atau pun kemampuan intelektual lainnya?
J.       Otak Pria dan Otak Wanita.
Adakah kaitannya antara otak di satu pihak dengan jenis kelamin di pihak lain? Ada yang beranggapan bahwa ada perbedaan antara otak pria dan otak wanita dalam hal dan bentuknya. Yakni hemisfir kiri wanita lebih tebal dibanding hemsifir kanannya (Steinberg dkk 2001:319). Menurut Paul Broca Otak pria lebih besar dibandingkan otak wanita, mempunyai fungsi lebih baik, lebih cerdas, dan memiliki kelebihan lainnya daripada wanita (Awuy, 1999). Meskipun ada perbedaan dalam pemrosesan bahasa antara pria dan wanita, perbedaan ini hanya mengarah pada pengaruh budaya daripada pengaruh genetik. Menurut Dr. Raquel Gur, Psikiater dari Universitas California menyatakan Otak wanita lebih seimbang. Sedangkan menurut Dr Thomas Crook dan sejumlah ahli (Femina, 17-23 Juni 1999) menyatakan otak waniyta lebih tajam. Bukan hanya pada inderanya tapi juga pada perasaannya.

K.    Bahasa Sinyal.
Bahasa sinyal diperuntukkan bagi orang yang tidak dapat berkomunikasi. Bahasa ini mempergunakan tangan dan jari untuk membentuk kata dan kalimat. Karena hemisfir kanan lebih unggul untuk menangani tugas-tugas yang berkaitan dengan desain dan pola-pola visual maka kita mengharapkan hemisfir inilah yang juga mengurusi bahasa sinyal. Namun dari hasil penelitian mengatakan tidak benar, karena orang yang tuna rungu yang hemisfir kirinya terkena stroke ternyata juga mengalami gangguan bahasa seperti yang dialami oleh penderita  afasia Broca atau Wernicke yang normal. Dan orang yang hemisfir kanannya rusak pada umumnya tidak terjadi gangguan dalam bersinyal, tatabahasanya masih utuh dan tidak terbata-bata.

L.      Metode Penelitian Otak.
Broca dan Wernicke melakukan penelitian mengenai otak manusia tentunya belum menggunakan peralatan canggih, mereka melakukan operasi setelah pasiennya meninggal. Ada juga yang melakukan pemisahan hemisfir kiri dengan hemisfir kanan pada pasien ayan. Bahkan Penfield di tahun 50-an mengoperasi pasiennya hanya dengan anatesi local sehingga pasien itu masih sadar. Dengan mamakai sebatang electrode yangberaliran listrik kecil, bagian-bagian tertentu pada otak ituditekan pelan-pelan, sementara pasien disuruh melakukan sesuatu, misalnya mengatakan gambar yang dilihatnya, menulis, menghitung atau membaca. Kegiatan itu akan terhenti  atau terganggu bila daerah pengontrol di otaknya kebetulan ditekan.
Kemajuan teknologi telah membuat penelitian mengenai otak lebih maju. Kini telah terdapat CT atau CAT (Computerized Axial Tomography) yang menggunaka sinar-X, ada juga PET (Positron Emission Tomography) yang mempertunjukkan otak secara langsung denga menngukan radio aktif, ada juga  MRI (Magnetic Resonance Imaging) yang mengukur fungsi otak dengan memanfaatkan jumlah aliran darah pada daera-daerah otak yang aktif dan ada ERPs (Event Related Potentials) yang dapat mengukur perubahan voltase pada otak.
1.      Teori Laterisasi
Dari Teori Broca dan Wernicke sebenarnya sudah dapat ditarik kesimpulan yang menyatakan adanya spesialisasi atau semacam pembagian kerja pada daerah-daerah otak manusia. Teori yang dapat ditarik secara jelas adalah bahwa Hemisfir kiri bertanggung jawab untuk mengatur penyimpanan pemahaman dan produksi bahasa alamiah. Dalam linguistik ini disebut teori Lateralisasi.
a.       Tes Menyimak Rangkap (Dichotonic Listeniang).
Diperkenalkan oleh Broadbent (1954), kemudian dilakukan oleh Kimura (1963, 1964) dan Ling (1969). Teori ini dilakukan dengan memperdengarkan pasangan kata seperti Pria dengan Wanita, Kucing dengan Anjing. Jika diperdengarkan ke telinga kiri Objek. Kata Wanita dan pada telinga kanan kata Pria. Ternyata kata Pria yang diperdengarkan ke telinga kanan dapat diulangi dengan baik. Dan tes ini dilakukan kepada Objek yang berbeda dan hasilnya sama.
b.      Tes Stimulus Elektris
Pertama kali dilakukan oleh Penfielad dan Rasmussen (1951) kemudian Penfield dan Robert (1959). Tes ini berpusat pada otak distimuluskan dengan aliran listrik melalui Talamus Lateral Kiri (Talamus = Struktur jaringan jauh di dalam otak) sehingga menimbulkan anomia. Tes ini membuktikan bahwa lateralisasi hemisfir kiri untuk bahasa telah merupakan satu kenyataan yang tidak dapat dibantah.
c.       Test Grafik Kegiatan Elektris
Tes ini dilakuakn untuk mengetahui adakah aliran listrik pada otak apabila seseorang sednag bercakap-cakap dan kalau ada bagian manakah yang giat mendapatkan aliran listrik ini. Tes ini diperkenalkan oleh Schafer (1967) dan digunakan pertama oleh Whitaker (1971).

d.      Tes Wada
Diperkenalkan oleh J Wada (1959). Dalam tes ini obat Sodium Amysal diinjeksikan ke dalam sistem peredaran darah pada otak. Belahan otak yang mendapatkan obat ini akan lumpuh sementara.
e.       Tes Fisiologi Langsung
Dilakuakn oleh Cohn (1971) untuk memperkuat hasil-hasil yang dilakukan dengan teknik psiko-fiiology, yaitu tes menyimak rangkap. Tes ini merekam secara langsung getaran-getaran elektris pada otak dengan cara electro-encephalo-grapky.
f.        Tes Belah Dua Otak
Kedua hemisfir sengaja dipisahkan, sehingga hemsifir tersebut tidak terhubung lagi. Kemudian Objek ditutup matanya dnegan kain. Pada tangan kiri Objek diletakkan sebuah benda dan ternyata Objek mengenal benda itu, tapi tidak mengenal benda itu. Dengan teori itu dihasilkan bahwa objek tidak lagi mempunyai satu akal melainkan dua.


2.      Teori Lokalisasi
Teori ini bisa disebut pandangan lokalisasi. Berpendapat bahwa pusat-pusat bahasa dan ucapan berada didaerah Broca dan daerah Wernicke.Selain laporan medis Broca dan Wernicke yang menyatakan bahwa pusat bahasa terdapat di Hemisfir kir juga dikuatkan laporan medis Geschwind (1968).
a.       Teknik Stimulus Elektrik.
Dengan teknik ini ditemukan hanya tiga bagian saja yang terdapat kelainan yang merusak bahasa seperti : Broca, Wernicke dan Korteks Motor.
b.      Teknik Perbedaan Anatomi Otak
Geschwind dan Levistscky (1968) menganalisis 100 otak manusia normal setelah mereka meninggal, ditemukan bahwa Planun Temporal yaitu daerah di belakang Girus Heschl jauh lebih besar pada hemisfir kiri.


BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Setelah kita mempelajari sedikit teori tersebut di atas dapat kita simpulkan bahwa :
a.       Otak mengalami pertumubuhan dari temuan pertama (Homo Sapiens) hingga kini. Rata-rata sebesar 700 mg hingga 100 mg.
b.      Yang mempengaruhi kinerja atau fungsi otak bukan ukuran otak. Hal itu terjadi pada perbedaan otak pria dengan otak wanita.
c.       Stroke atau Afasia merupakan kerusakan pembuluh darah pada otak yang mengakibatkan si Penderita mengalami gangguan wicara.

B.     Saran
Setelah mempelajari tentang Neurolinguistik, Penulis menyarankan sebagai berikut :
a.       Melihat peran otak bagi kegidupan manusia maka makanlah makanan yang mengandung nutrisi bagi pertumbuhan otak seperti seafood, sayuran dan sebagainya.
b.      Diharapkan ada penemuan piranti atau metode terbaru untuk meneliti otak.


DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. Psikolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta: Rineka Cipta, 2003.
Dardjowidjojo, Djono. Psikolinguistik Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005.
Anwar, Djasminar. English Fakultas Tekhnik II. Jakarta, 2008.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar